Mati Saat Hidup (Eps 25)

Saatku terbangun, kepalaku sangat sakit. Apakah aku dipukul? . Perlahan aku membuka mata, pandangan yang buram sedikit demi sedikit tampak jelas. Dan terlihat ada dua pria di depanku, itu sungguh sangat mengejutkanku. Tapi ketika aku mau bergerak tidak bisa. Aku langsung Syok… Saat tahu sedang terikat dikursi.

Aku tak bisa mengucapkan satu patah katapun dan hanya gemetar. Salah satu dari dua pria itu kemudian bicara, “Hai cantik! Kami sudah menunggu lama, seseorang yang disayangi oleh Malaikat Hitam itu. Dan akhirnya kami menemukanmu. Dia tidak bisa dilawan dengan kemampuan anehnya itu, jadi kami mustahil bisa membalas dendam langsung. Jika kami tidak bisa menyakiti fisiknya maka kami akan menyakiti hatinya melalui dirimu yang dia sayang.”

Dengan air mata aku memohon kepada mereka, “Ku mohon jangan hancurkan hidupku.  Aku satu-satunya harapan orang tuaku. Tolong… Aku tidak ingin mengecewakan mereka.”
Aku sudah berusaha memohon ampun, tapi mereka tidak menghiraukankanku dan malah mulai melepas satu persatu kancing bajuku. Dengan kesal ku mengancam mereka, “Enja pasti tidak akan memaafkan kalian! Dia mungkin sedang ke sini. Jadi cepat lepaskan aku sebelum terlambat.”
Alangkah terkejutnya aku saat pria yang didekatku berucap, “Dia tidak akan ke sini dengan cepat, karena sedang sibuk menolong Yupi.” Mereka sudah merencanakannya.
Aku berontak sekuat tenaga, dan berteriak, “Aaakhhh…”, kemudian Pria satunya lagi mendekatiku dengan jarum suntik berisikan cairan di tangannya.
Dia menancapkan jarum itu langsung ke lengan kananku tanpa ampun, “Musuh pacarmu itu terlalu banyak, kami bersatu dan menjadi kuat. Meski kami tahu akan mati satu persatu saat dia tahu kami menjahatimu, setidaknya kami bisa memberikan luka dihatinya. Itu sudah membuat kami puas. Hahah.”
Tawanya bersamaan dengan kesadaranku yang mulai menghilang.


Aku sadarkan diri dengan keadaan yang tak bisa ku bayangkan. Entah aku di mana, hanya ada semak-semak di sekelilingku.Yang membuatku sangat terpukul, tidak ada satu helai benangpun yang ku kenakan. Pakaian dan barang-barangku hanya diletakan di sampingku. Dengan gemetarku mencoba meraihnya. Ku memeluk pakaianku dengan erat dan terasa hampir sekujur tubuhku terasa sakit. Ku hanya bisa menangis, dan sesekali mencoba menahannya. Ku ingin segera di tolong, tapi aku juga takut jika ada yang datang menolong, “Hiks… hiks…”
Aku terus menangis, hingga kembali pingsan.

Ketika aku terbangun, aku ada di sebuah ruangan dan di atas kasur, aku berteriak keras, “Aaaakk!!!”
Sebuah pelukan hangat menenangkanku, “Huja, ini Ibu…”
Ku menatap wajahnya, aku masih mengenalnya. Ku memeluknya erat dan tak berhenti menangis.


Setelah ituu aku hanya mengurung diri di rumah. Tidak ingin menemui siapapun kecuali ibuku. Aku ketakutan mendengar semua suara Pria, bahkan aku tidak bisa mengenal dan membedakan suara Ayahku sendiri.


Sunggu aku sangat menyesal, tidak mempedulikan peringatan yang sudah mampir kepadaku, agar tidak mendekati Enja. Aku sangat marah pada diriku sendiri dan aku sangat membenci Enja. Hingga suatu ketika aku mendengar suara yang menyebutkan Enja. Dan ku hanya bisa menutup telingaku  mendengar perdebatan di luar sana.

Seseorang tiba-tiba masuk dalam kamarku, sontakku berteriak, “Keluarrrr!!!”
Tapi kemudian ku terdiam, saat tahu sosok itu Enja yang ditemani Ibu di sampingnya. Enja mendekati dengan mata yang memerah dan tubuh yang gemetar, dan dia berucap, “Maafkan aku… “ Dia mencoba menyentuh pundakku, tapi dia urungkan dan kembali berucap,”Mereka semua tidak akan lolos, aku akan perlihatkan siksa neraka dunia padanya.” Dan ketika Enja berbalik, tiba-tiba, ‘Brukkkkk…’ Enja jatuh tersungkur. Terlihat seseorang Pria, berdiri tegak dan berteriak, “Bagaimana bisa kamu menemukan mereka, Polisi saja tidak bisa melacaknya. Gara-gara kamu, anakku jadi hancur. Berhenti menghancurkannya dengan harapan kosongmu itu….” Ayah memukul telak wajah Enja. Terlihat Enja menyapu darah di bibirnya.

Tiba-tiba kami semua dibuat kaget, saat di Jendela kamarku tampak sosok puluhan mungkin ratusan burung berwarna hitam mencoba menerobos masuk kaca Jendela yang tertutup, retakan kaca mulai terlihat. Dan ketika Enja mengarahkan telapak tangannya ke arah Jendela, burung seperti Gagak itu berhenti.

Terlihat Ayah dan Ibu terdiam terpaku dan gemetar, lalu Enja bicara, “Mereka semua adalah temanku, dan bereaksi spontan jika aku dilukai. Tapi aku bisa mengendalikan mereka. Jadi tidak perlu takut…”
Enja kemudian berdiri dan melanjutkan bicara,”… dan Mereka burung yang mempunyai penciuman yang sangat peka. Saya hanya butuh pakaian Huja yang dikenakan saat kejadian itu untuk mereka gunakan dalam melacak semua orang yang terlibat. Dengan begitu aku bisa menangkap para penjahat itu semua dari informasi mereka…”
Ayah terlihat percaya setelah menyaksikan semuanya, lalu Ayah membuka jendela. Seekor burung Gagak masuk dan mendekati Ibu yang sedang mengeluarkan pakaianku.  Lalu burung Gagak itu pergi keluar jendela. Ibu kemudian bertanya, “Kenapa hanya seekor?”
Enja menjawabnya, “Mereka juga memiliki kemampuan berbagi informasi!”
Terlihat di luar jendela burung Gagak yang tadi masuk di kelilingi ratusan Burung Gagak lain di langit. Bersamaan dengan Enja yang kemudian ingin pergi, tapi di tahan oleh ayahku, “Om  tidak ingin kamu menangkapnya hanya untuk menyerahkan Penjahat itu ke polisi?”
Enja membalas dengan sedikit senyuman dan pergi.

Hari-hari berlalu. Ibu selalu menemaniku yang hanya bisa diam seakan tidak punya semangat hidup. Dan suatu hari seseorang datang bertamu. Semua tidak ingin ku temui, tapi ketika mendengar nama Enli, aku ingin menemuinya. Kerena setelah kedatangan Enja terakhir kali, dia tidak pernah mendatangiku lagi. Dan sekarang adiknya yang datang padaku. Tentu aku ingin mendengar kabar dari Enja. Di balik hati ini aku masih menyimpan rasa padanya.

Enli terlihat masuk ke kamarku seorang diri. Dan mendekatiku dengan wajah yang murung,”Cuma kak Huja yang bisa hentikan kak Enja. Semua pelaku yang telah menjahati kakak sudah tewas dengan siksaan yang diberikan kak Enja. Bahkan kak Enja mengirimkan video penyiksaan itu ke aku untuk diperlihatkan ke kak Huja.”
Segera ku merebut Ponsel yang dibawakan Enli. Semua yang ada di Video, aku masih mengingatnya. Wajah-wajah para Pria jahat yang tega menghancurkan hidupku. Padahal aku tidak pernah salah dengan mereka.
Enli kemudian berucap kembali sambil mengoyangkan bahuku berkali-kali, “Kak berhentilah tersenyum, dan hentikan kak Enja, sekarang tagetnya bukan lagi yang telah menyakiti kakak. Keluarga penjahat itu juga menjadi incaran kak Enja. Mereka tidak bersalah…”
Aku berteriak, “Aku juga tidak punya salah dengan para penjahat itu, tapi mereka tetap menyakitiku. Jangan harap aku menyuruh Enja untuk berhenti bahkan sampai matipun aku tidak akan mau.”
Ancamanku justru membuat Enli tersenyum aneh, terlihat dia mencoba membuka Jendela. Itu tentu membuatku kaget. Enli dan Enja sama-sama berasal dari keluarga misterius yang Aneh, pasti Enli juga se aneh kakaknya. Aku yang dari tadi hanya diam di kasur tak beranjak pergi terpaksa harus bergerak untuk menghentikan Enli yang membuka Jendela, tapi itu terlambat. Seekor burung Putih masuk ke kamarku dan hinggap di sebuah rak Buku.

Aku langsung kembali ke kasur sambil melindungi wajahku dengan tangan dan memohon, “Jangan sakiti aku lagi…”
Enli segera bicara, “Lihatlah burung itu? Apa ia seperti burung yang buas.”
Perlahan aku melihat burung Merpati itu dan benar, dia tidak seseram burung Gagak milik Enja. Tapi itu justru membuatku semakin bertekad, “Kamu tidak bisa memaksaku atau menawarkan sesuatu kepadaku untuk menuruti yang kamu mau. Jadi segeralah pergi. Aku tidak menyukai apapun lagi, termasuk Burung Seindah apapun itu.”
Dengan santainya Enli membalasku, “ Aku juga tahu dan sudah memperkirakannya, oleh karena itu aku menggunakan burung Merpati itu.”
Ucapan Enli seketika membuatku kepalaku pusing hingga ku tidak tahan untuk tidak menutup mataku. Kemudian rasa pusing itu perlahan menghilang. Dan aku membuka mataku. Alangkah terkejutnya aku, ketika bisa melihat wajahku sendiri. Bahkan aku bisa menyaksikan Enli sekaligus diriku bagaikan seperti lagi menonton Tv dan kemudian Enli bicara, “Aku memang tidak bisa mengendalikanmu, kak Huja. Tapi aku bisa mengendalikan burung Merpatiku. Dan perlu kakak tahu, bahwa burung Merpati itu adalah penyampai pesan alami terbaik.”
Aku syok… saat sadar, diriku ada di dalam tubuh seekor burung Merpati, dan tubuh manusiaku sekarang…  Enli sedang bicara padanya, “Merpati sampaikan pesanku dengan berpura-pura menjadi Huja dengan tubuhmu sekarang ini kepada kakakku Enja, untuk menghentikan semua yang dia lakukan.”

Aku hanya bisa tercengang menyaksikan itu semua, apalagi melihat tubuh manusiaku mengangguk dan bicara, “Baik Nona!”
Suaranya persis dengan suaraku. Aku mencoba berteriak, tapi hanya suara kicauan Burung yang terdengar. Tamatlah aku.

(Selesai)

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

0 Response to "Mati Saat Hidup (Eps 25)"

Post a Comment

Hak Cipta Dilindungi

Cerbung.id. Powered by Blogger.