Teror Yang Tiada Henti (Eps 2)

"Aku ingin pergi dari rumah sakit ini. Beritau aku berapa biayanya?" ucap Inda. Kemudian menepuk jidatnya karena teringat sesuatu.
"Aku kan gak bawa uang!"
"Pemuda itu sudah membayar perawatanmu. Kamu belum pulih. Lebih baik istirahat saja dulu." balas si perawat.
Inda semakin heran. Dia lalu turun dari kasur dan berdiri, "Aku tidak sakit lagi. Aku ingin lihat dokumen administrasi pembayarannya." Inda tidak sabar lagi ingin tahu nama pemuda misterius itu.

"Apa? yang benar aja? gak salah?" teriak Inda.
"Ya emang begitu adanya, non!" jawab si perawat.
"Emang bisa, nama pembayar ditulis 'cowo itu' kalian serius gak sih?"
"Itu masalahnya. Kami cuma nanyain biaya pengobatannya siapa yang nanggung. Dia bilang, 'Aku yang bayar' setelah ngasih uang, dia langsung pergi. Gak kepikiran buat nanyain namanya." jelas si perawat panjang lebar.
"Ah. Aku tidak peduli. Aku mau keluar. Di mana pintunya."

Inda diantar oleh perawat itu. Sesampainya di pintu. Inda hanya menemukan kumpulan kunci di saku roknya.
"Aduh. Jarak rumah sakit inikan jauh dari rumahku." keluh Inda. Dia lalu dengan ragu kembali menemui si perawat.
"Cowo itu! dia ninggalin sesuatu gak?" tanya Inda.
"Oh, saya baru ingat. Dia ada nitipin uang buat biaya kamu naik taksi pulang ke rumah." jawab si perawat sambil senyum-senyum malu dan mengeluarkan sejumlah uang.
Inda langsung mengambilnya dengan kesal, "kenapa gak bilang dari tadi?"
...
Sesampainya di depan rumah. Selama 30 menit lamanya Inda di depan pagar.
"Ah. Grrr. Sial-sial. Kunci bodoh." teriak Inda setelah semua kunci dia coba, tapi gak ada yang cocok.
Tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang aneh.
"Perasaan, kalungku gak berat."
Dia kaget kalungnya tergantung sebuah kunci.
"Cowo itu! ini pasti ulahnya. Grrr" Inda tambah kesal.
Dia lalu membuka pagar rumahnya dengan kunci itu. Bergegas masuk. Menguncinya kembali.
...
Siang itu semua kuncinya dia coba dan diberi nama satu persatu, dari kunci kamar tidur utama, kamar tidur dua, tiga, empat, kamar mandi satu, dua, gudang, dapur satu, dapur dua, ruang tamu, ruang keluarga satu, dua, ruang santai, dan lain-lain. Tidak terasa waktu sudah malam.
...
Tok..Tok..Tok.. Inda langsung merinding mendengar suara itu. Dia mengintip dari balik jendela. Benar dugaannya. Pemuda berpakaian putih datang kembali. Kali ini Inda tidak membukakan pintu. Si pemuda lalu menuju samping rumah. Inda yang melihat itu, teringat dengan tangga di samping rumah dan jendela kamarnya yang tidak tertutup. Inda bergegas mencari kunci kamarnya di kumpulan kuncinya yang berserakan dilantai. Dia ingin mengunci kamarnya untuk mencegah pemuda itu masuk. Lalu dia garuk-garuk kepala.
"Aduuuh. Aku baru sadar tulisanku kayak cakar ayam. Yang mana nih kunci kamarku."
Inda mendengar tangga dipindahkan ke jendela kamarnya. Dia semakin panik.
"Masa bodoh." Inda ambil semua kuncinya. Lalu berlari ke lantai dua. Alangkah terkejutnya dia saat tiba di kamarnya, si pemuda sudah naik.
Inda berteriak, "Kamu mau ngapain lagi sih?"
Si pemuda menjawab, "Aku ingin menciummu hingga lemas. Aku ingin memelukmu hingga terlelap."
"Bukannya kemaren udah."
"Belum. Kamu keburu pingsan saat itu."
"Dasar gila!" teriak Inda sambil berlari ke lantai satu. Dia lalu masuk ke dalam gudang, mencari tas selendangnya. Kemudian keluar.
"Ahhh!" Inda benar-benar kaget melihat wajah si pemuda tepat di hadapannya. Inda langsung menjatuhkan tubuhnya. Memasukan dengan cepat kunci yang berserakan di lantai ke dalam tasnya. Kemudian merangkak menjauh, berdiri dan pergi berlari. Semua dia lakukan dengan cepat dan panik.

Inda mencoba mengunci pintu keluar rumahnya untuk mengurung si pemuda. Tapi si pemuda sudah dekat dengan pintu, mendorong pintunya sedikit agar Inda tidak bisa menguncinya.
"Ah percuma" ucap Inda kesal.
Dia kembali berlari menuju pagar dan berusaha mengunci pagarnya kembali.
Si pemuda berjalan mendekatinya, sambil bicara, "Kau memegang semua kehidupanku. Dengan bayanganmu yang selalu hadir dalam mimpiku. Membuatku ingin memegang tubuh indahmu itu."
Inda kembali berteriak, "berhenti bicara mengerikan!"
kemudian berlari menjauh. Si pemuda memanjat dan meloncat di pagar dengan mudahnya.

Brakkk. Sebuah mobil berbelok menuju terotoar untuk menabrak Inda. Diapun terkapar. Mobil itu berusaha melarikan diri. Si pemuda dengan cepat naik ke mobilnya dan mengejar mobil yang menabrak Inda.

Si pemuda menghentikan mobilnya, ketika melihat di kaca spion kirinya, Inda yang bergerak sambil menatap ke arahnya.

(Bersambung)

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

0 Response to "Teror Yang Tiada Henti (Eps 2)"

Post a Comment

Hak Cipta Dilindungi

Cerbung.id. Powered by Blogger.