Selalu Bisa Diharapkan (Eps 30)

Terlihat Hita dan teman-temannya terengah-engah seperti habis menyelam di air atau nafas mereka memang sempat berhenti agak lama.
"Jika aku jadi kamu, aku akan melakukan hal yang sama." Ucap Hita.
Sanja mengeluarkan ponselnya. Bukannya seharusnya mengeluarkan tanda pengenal keanggotaannya sebagai Intel kepolisian. Perasaanku sudah mulai tidak enak.

"Kami akan bantu kamu nikmati Lina, kamu juga harus bantu kami bawa mereka keruangan lain di bangunan ini." Lanjut Hita.
"Maaf aku dobrak pintumu hingga rusak." Ucap Sanja sambil mengotak atik ponselnya.
"Kamu tidak seriuskan menerima tawarannya?"' Ucapku mulai cemas.
"Sanja itu manusia sama seperti kita jadi punya nafsu bukan malaikat yang hanya punya akal mana mungkin melewatkan kesempatan emas ini, gadis sombong sepertimu harus dijinakkan dengan cara ini." Balas Hita.
Emang aku binatang harus dijinakan segala. Aku hanya bisa gemetar. Sanja juga terlihat menghalangi pintu keluar.
"Manusia juga punya akal yang digunakan untuk berpikir Sanja pasti memikirkan bagaimana kata-kata orang nanti jika aku hamil diluar nikah." Ucapku.
"Sudahlah Lina berhenti berharap, Sanja akan merekam mu dengan ponselnya." Sambung Hita.
"Aku punya rekaman penyadapan pembicaranmu ditelpon dengan temanmu saat merencanakan niat jahat ini." Ucap Sanja ke Hita diluar dugaan sambil memutar rekaman yang dia maksud.

"Aku butuh bantuan kalian. Aku selalu memikirkan Aya. Aku ingin memilikinya seutuhnya, baik karakter saat dia jutek ataupun polos... " Bunyi rekaman itu identik dengan suara Hita.

Hita terlihat kesal, "Emang kamu siapa? KPK atau Presiden. Seenaknya melakukan penyadapan telpon itu. Aku bisa menuntutmu!"
"Aku juga punya bukti rekaman suaramu yang ku rekam saat terhubung dengan HP Lina." Ucap Sanja lagi sambil memutar rekaman yang dimaksud.

"Jangan bercanda Lina. Kamu pikir kami bodoh. Tidak usah pura-pura seperti itu. Sudahlah terima saja takdirmu. Sebenarnya kami cuma ingin menikmati Aya, berhubung kamu juga ada disini. Bersiaplah untuk kami nikmati juga." Ucap Hita dalam rekaman itu.

"Aku tidak tahu apa jalan pikiranmu, Sanja. Sebenarnya apa maumu?" Ucap Hita benar-benar heran. Akhirnya dia juga merasakan apa yang kurasakan saat bersama Sanja.

"Sepertinya sudah terkendali. Aku ingin kalian pilih borgol yang kalian inginkan dan pasang di lengan kalian masing-masing." Ucap Sanja mengeluarkan sejumlah borgol di dalam tas sandangnya lalu melemparkannya di depan Hita.

"Kamu itu siapa? Jangan becanda, bagaimana bisa punya borgol sebanyak ini! Kaya pesulap saja, nyuruh kami milih!" Tanya Hita lagi.
"Polisi akan segera datang. Mungkin mereka terjebak macet." Balas Sanja.
"Jumlah kami banyak. Kamu kalah jumlah. " Ucap Hita menyadari kenapa Sanja meminta berunding.
"Dia benar. Sebaiknya kita lari." Ucapku sambil berlari menuju pintu keluar.

Tapi tiba-tiba Sanja menahan tanganku.
"Bagus Sanja, kapan lagi kamu bisa menikmati pacarmu secepat ini. Tidak perlu mengodanya dengan janji-janji." Lanjut Hita.
"Sanja, kumohon jangan sakiti aku." Bujukku ke Sanja.

"Maaf, aku buatmu takut. Aku minta, tolong bawa Aya juga keluar di sini." Ucap Sanja pelan. Aku benar-benar melupakan Aya karena terlalu paniknya. Anehnya Sanja masih bersikap gitu padahal keadaan memihaknya.

Hita terlihat menyadarinya dan berusaha menangkap Aya.
"Pasang borgolnya atau peluru ini yang harus terpasang di tanganmu!" Ucap Sanja sambil menodongkan pistolnya yang dia keluarkan dengan cepat, ke arah Hita membuat Hita menghentikan gerakannya.

Aku segera membantu Aya berdiri dan pergi keluar. Terlihat Aya menangis sambil memegangi lengannya.

Aku sebenarnya agak kecewa Sanja tidak menghukum Hita dengan kemampuan mistisnya. Tapi aku juga senang dia bisa diharapkan. Di luar aku di sambut Yena.
"Kenapa Aya?" Tanya Yena.
"Tangannya mungkin terkilir." Ucapku menduga.
"Biar aku bantu." Balas Yena sambil memegang tangan Aya.
"Tahan rasa sakitnya." Lanjut Yena, lalu mengurut tangan Aya.
"Ahhh." Teriak Aya.
"Bagaimana?" Tanya Yena.
"Sudah tidak terlalu sakit lagi untuk digerakan. Makasih." Balas Aya.

Tidak beberapa lama kemudian mobil polisi datang.
Satu persatu temannya Hita dijemput dari dalam bangunan dan dimasukan ke dalam mobil tahanan. Saat Hita di bawa polisi dan melewatiku, dia tersenyum. Entah kenapa aku menjadi takut.

Aku melihat Yena sedang menyerahkan HP Sanja ke salah satu polisi. Saatku menghampirinya. Polisi itu pergi.
"Aku mau bicara denganmu?" Ucapku ke Yena.
Aku melihat keseliling, meski Sanja jauh dari kami, ada burung Gagak yang dekat dengan kami, "Kita ke tempat lain. Di sini ada burung Gagak yang memperhatikan kita." Ucapku mulai ketularan keanehan Sanja menganggap burung itu bisa ngadu ke Sanja.

Aku mengajak Yena ke tempat yang diluar jangkauan burung Gagak yang sedang bertengger di pohon. Aku curiga pengelihatan Sanja terhubung dengan pengelihatan burung itu karena memiliki warna mata yang sama.
"Mengenai burung gagak, Sanja punya peliharaan seekor burung Gagak!" Ucap Yena.
Aku tidak terkejut, ternyata dugaanku benar Sanja ada hubunganannya dengan burung Gagak.
"Dia juga punya peliharaan seekor burung merpati." Lanjut Yena.
Untuk yang satu ini membuatku terkejut. Aku kembali mengingat bayangan sayap yang terlihat sekilas di belakang Sanja tadi memang mirip dengan sayap burung Merpati.
"Kamu bisa ceritakan bagaimana Sanja bisa memelihara kedua burung itu?" Tanyaku.
"Bukannya kamu ingin membicarakan sesuatu?" Tanya balik Yena benar-benar bikin aku bingung, yang ingin aku bicarakan dan informasi Yena sama-sama penting.

Lihat aku cuma diam Yena kembali bicara.
"Mengenai keanehan Sanja yang kamu tanyakan. Dia dapat menyembuhkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan ilmu kedokteran. Saat aku ingin tahu caranya. Dia bilang, sulit menjelaskannya. Padahal aku menginginkan kemampuan itu. Biar aku bisa menjadi dokter yang sempurna." Ucap Yena malah curhat, tapi itu membuatku tertarik mendengarkannya.
"Kebetulan sekali. Aku ingin mengajakmu berkerja sama mengungkap rahasia keanehan Sanja." Sambungku.

"Saat SMP di mana aku mengenal Sanja pertama kalinya, ibunya meninggal tidak wajar. Kata neneknya saat aku melayat, ibu Sanja meninggal karena ilmu hitam yang dikirim oleh orang yang pernah suka dengan ibunya dulu." Ucap Yena.
"Dia bilang ke polisi agar menangkap pembunuh ibunya, tapi itu dianggap sebagai kematian karena sakit bukan karena santet." Lanjut Yena.
"Dia dianggap stres semenjak bicara sendiri. Aku hanya bisa memperhatikannya karena takut bicara dengannya." Yena terlihat sedih dan menyesal tidak hadir di kehidupan Sanja saat itu.
"Kata Sanja yang ku dengar saat mengintipnya diam-diam, 'Ini tidak adil mereka yang menggunakan ilmu hitam termasuk jinnya seharusnya dihukum.' Saat Sanja bilang gitu. Seekor burung Gagak datang. Dia bilang lagi, 'Mungkin aku tidak akan dikatakan gila jika bicara denganmu, tidak bicara sendiri lagi.' Sanja malah bicara dengan burung Gagak itu." Yena mulai merasa merinding terlihat mengusap tangannya dan menghentikan bicara, aku juga merasakan suasana di sini mulai dingin.

"Bicaralah mumpung tidak ada Sanja." Ucapku benar-benar penasaran dengan masa lalu Sanja.

(Bersambung)

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

0 Response to "Selalu Bisa Diharapkan (Eps 30)"

Post a Comment

Hak Cipta Dilindungi

Cerbung.id. Powered by Blogger.