Saat Kematian Tidak Menghampiri (Eps 22)

Ada Fajer saat aku menoleh ke arah suara misterius. Dia menggenggam tongkat besi. Salah satu pria terkapar. Salah satunya mencoba melawan dengan mencoba meraih pistol punya temannya yang tergeletak. Dengan cepat Fajer memukul tangan pria itu. Pukulannya juga mengenai tanah yang terdapat bebatuan. Menghasilkan bunyi lonceng yang aneh.

Setelah Fajer mengalahkan mereka berdua. Dia melepaskan tongkat dan menghampiriku yang menyaksikannya. Dengan mengelinangan air mata aku masih bisa tersenyum. Dia membalas senyumku. Lalu tiba-tiba.

DOAAAR... Fajer yang berada di depan dan samping kananku langsung tertunduk. Aku terperangah. Tidak percaya dengan apa yang terjadi. Sekuat tenaga aku merangkak mendekati Fajer. Aku berusaha bangkit dan duduk bersimpuh di depannya yang sedang duduk berlutut. Kami saling berhadapan.

Fajer masih bisa tersenyum saat peluru menembus dadanya, "Entah kenapa... kau selalu hadir dalam pikiranku... Dadaku tiba-tiba sakit, saat kau sedih dan butuh pertolongan...Agh..."
Aku segera menahan dadanya yang terus keluar darah, berusaha agar pendarahannya berhenti. Detak jantungnya melemah. Aku bisa merasakannya dengan tanganku ini. Napasku yang sesak seakan seirama dengan detak jantungnya.

Dengan terbantah-bantah aku berkata, "Te tap lah hi dup, ak ku butuh kam mu..." Air mataku terus menetes.
Mata Fajer berkaca-kaca, bisa-bisanya dia berusaha menahan air matanya mengalir saat seperti ini, "Melindungi diri sendiri saja aku tidak bisa, aku tidak pantas untuk k..." Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, tubuh dia ambruk, dan jatuh dipelukanku.

Di belakang Fajer terlihat kak Enja dengan pistolnya, "Aku sudah menduga, dia menolongmu karena ada maunya. Terus menanyakan keberadaanmu, membuatku curiga dia ingin berniat jahat padamu..."
Kata-kata kakak membuatku sangat kesal, "TIDAAAK!!!"
Aku berteriak marah saat tidak merasakan detak jantung Fajer lagi. Aku memeluk erat dia. Pandanganku mulai kabur. Semuanya putih...

...

Apa aku tidur atau pingsan. Saat aku membuka mata, aku berada di halaman sekolah disaat matahari terbit. Aku tersenyum melihat Fajer ada di depanku berdiri tegak dengan pakaian putihnya, aku tertawa selama ini aku tidak melihat jodohku yang disediakan Sang Pencipta di dunia ini, betapa bodohnya aku, "Ha ha ha!"

Tiba-tiba aku mendengar suara kak Enja, tapi aku tidak melihat keberadaannya, "Kenapa adik saya dok, kenapa dia tersenyum, tertawa sendiri dan menatapku kosong."
Aku ketakutan, aku menutup telingaku dan berteriak, "PERGIII DARI PIKIRANKU!!!"

Suara bisikan lain tak berwujud kembali terdengar, "Maaf, sepertinya adikmu mengalami gangguan mental."

Aku tahu itu bisikan setan yang mencoba membuatku berpikiran gila, "Ku mohon berhentilah berbisik di dalam kepalaku.".

Aku berlari menuju Fajer, tapi tubuhku seperti ada yang menahan. Tidak ada siapa-siapa di halaman sekolah ini. Cuma ada aku dan Fajer. Entah kenapa tanganku kaku. Aku ketakutan, dan berusaha berontak sekuat tenaga. Tapi tiba-tiba kepalaku pusing entah kenapa.

(Tamat)

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

0 Response to "Saat Kematian Tidak Menghampiri (Eps 22)"

Post a Comment

Hak Cipta Dilindungi

Cerbung.id. Powered by Blogger.