Pertarungan Yang Tak Terelakan (Eps 7)

"Kenapa datang sendiri teman polisi kakak mana!" Kata sambutan yang ku ucapkan kepada kak Pad yang baru datang di rumah tempatku menyiksa para penjahat.
"Apa yang kau lakukan. Berhenti menyayat tubuhnya! Kau buat dia tersiksa!" Teriak Kak Pad melihat darah keluar dari tubuh seorang pria meski tidak deras.

Aku berdiri diantara Bobi yang sudah tewas dan pria yang masih hidup, "Mahasiswi yang tidak mampu dia buat tersiksa dengan memakainya biar tetap bisa kuliah. Jadi gak apa aku juga memakai tubuh dosen Rio sebagai kertas gambarku!" Jawabku polos.
"Tidak ada bukti, kau tidak bisa main hakim sendiri!" Balas kak Pad.
"Dia datang ke sini setelah mengetahui aku bisa dipakai, apa itu bukan bukti!" Aku keluar dari ruangan itu.

Beberapa saat kemudian aku masuk lagi dengan membawa anak laki-laki yang masih SMP, dan berkata "Mengetahui pak Rio punya niat jahat padaku pasti kakak ingin membunuhnya!" Sambungku.

Rio yang ikatannya telah dilepaskan kak Pad berteriak, "Lepaskan anakku!"
Aku lemparkan kapak ke arah Rio lalu ku letakan pisau runcingku di leher anaknya, "Bunuh polisi psikopat itu atau anakmu mati!"
Terlihat kak Pad mau mengambil pistolnya, aku segera bicara, "Jika kakak membunuh pak Rio di depan anaknya. Maka kakak harus bunuh anaknya juga, dia mungkin akan dendam dan menjadi penjahat!"
Sesuai dugaanku, kak Pad tidak tega membunuh anak-anak.

"Kalau begitu, aku cukup melumpuhkan Rio saja!"
Balas kak Pad sambil mengeluarkan pisau.
"Ayunkan kapakmu ke arahnya!" Perintahku kepada Rio.
Kak Pad menahan kapak Rio dengan pisaunya.

"Menarik juga, kapak lawan pisau. Sudah bisa ditebak siapa yang menang!" Aku lemparkan setrikaan yang ada di sana tepat ke kepala kak Pad sehingga membuatnya terjatuh.
"Angkat lebih tinggi kapakmu pak Rio, aku ingin melihat darahnya mengalir!" perintahku.

(Bersambung)

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

0 Response to "Pertarungan Yang Tak Terelakan (Eps 7)"

Post a Comment

Hak Cipta Dilindungi

Cerbung.id. Powered by Blogger.