Kisah Korban Pelakor (Eps 8)

Aku terjatuh ke lantai. Kakiku sakit sekali. Terlihat di dekat kaki ku yang sakit ada buku Lovenote. Jangan-jangan aku terpeleset gara-gara menginjaknya. Aku tidak hati-hati dengan buku itu. Aku mencoba berdiri tapi rasa nyeri di kaki kananku, membuatku kembali terjatuh. Aku merangkak dan meraih telpon. Menghubungi Pelayan Hotel.

Aku minta Pelayan Hotel membawaku ke klinik, dia malah membawaku ke Rumah Sakit.

Di Ruang UGD aku diperiksa oleh seorang dokter perempuan muda.
"Sepertinya kakimu patah. Sayang sekali."
"Apa???" Ucapku terkejut kayak iklan JD.ID di TV.
"Aku becanda, kakimu cuma terkilir kok. Tapi biar cepat sembuh lebih baik rawat inap aja."
Aku tercengang, bisa-bisanya dokter becanda kayak gitu.
"Aku cuma terkilir, jadi tidak masalah jika pulang."
Aku mencoba berdiri. Tapi pijakanku malah tidak stabil, beruntung tidak sempat jatuh karena dokter itu membantuku dengan menahan tanganku. Kami saling memandang.
"Meskipun cuma terkilir tetap akan ada peluang menjadi parah bahkan bisa memicu kanker tulang jika disepelekan." Ucapan dokter itu seketika menghilangkan momen indah melihat wajahnya yang cantik.
Aku takut dan kembali duduk di kasur.
Dokter itu tersenyum.

Akhirnya aku di rawat di kamar Rumah Sakit nomor 13. Saat sendiri aku merenung. Aku tidak habis pikir bakalan dikelilingi perempuan-perempuan aneh. Sekarang ada Dokter yang mencoba mengikatku di sini dengan ketakutanku terhadap penyakit.

Tiba-tiba pintu terbuka. Sudah ku duga Dokter itu yang masuk. Dia menghampiriku. Aku tidak sempat melihat namanya jadi aku mencoba melihat namanya yang tertera di dada, 'Dr. Geny Ayana'.
"Ih jangan mesum gitu dong. Lihat-lihat dadaku." Ucapan Dokter itu sontak membuatku kaget.
Aku langsung salah tingkah dan gugup. Rasanya tubuhku panas dan dingin.
Dia tiba-tiba memegang tanganku.
"Kamu berkeringat, apa kamu pecandu. Sepertinya perlu tes urine." Ucap Geny sambil melihat bagian bawah pinggangku.
Membuatku semakin deg degan. Apa dia ingin menyentuh punyaku juga.
Geny meletakan buku ke tanganku.
"Maaf, aku becanda. Aku tahu kamu gugup. Aku ke sini mau menyerahkan Ini, punyamu kan, tadi Petugas Hotel ngasih ke aku."
Geny terlihat menahan tawa sambil pergi ke luar. Bisa-bisanya dokter menggoda pasiennya kayak gitu.

Setelah Geny pergi aku melihat buku yang dikasihnya. Sial, buku Lovenote ini kembali lagi padaku. Sepertinya ia tidak ingin aku pergi begitu saja. Aku terpaksa membuka buku itu. Tulisan baru muncul. Kali ini lebih panjang dari sebelumnya.

'Aku hanya istri yang ingin bahagia. Tapi kemunculan wanita lain membuat impianku sirna. Pencuri Laki Orang itu hanya memikirkan dirinya. Tidak memikirkan perasaanku yang membina rumah tangga lama...

'...Aku menolak di poligami. Pertengkaran dengan suamiku tak terhindarkan dan berunjung kecelakaan. Tangisanku saling besahutan dengan hujan. Tapi tidak tak ada dalam dirinya rasa kasihan. Aku menahannya pergi. Dia mendorongku di lantai teras licin ini. Di Rumah kami yang dekat sungai, aku terjatuh. Beruntung tanganku sempat meraih lantai kayu. Aku menatapnya dengan harapan. Tapi dia membalasku dengan kejam. Seakan bosan dengan istri lamanya yang setia, jangankan meraih tanganku, dia justru memotongnya. Hingga aku larut bersama aliran deras sungai...'

'...Seakan malaikat maut memberi kesempatanku hidup. Aku tersangkut bersama sampah di pinggir sungai. Aku bukan sampah yang dapat dibuang jika ada yang baru. Aku merangkak ke tepi. Tapi itu percuma, aku semakin lemah. Di tengah hutan ini tidak ada orang. Darahku yang tadi mengalir mulai membeku. Aku kedinginan. Aku tersiksa...'

'... Aku berteriak. Tapi tidak ada pertolongan yang ku dapat. Cuma alam yang menyaksikan detik-detik kematianku. Termasuk buah jeruk nipis yang tiba-tiba terjatuh dari hutan menuju tepi sungai dan berhenti di hadapanku...'

'...Aku pasrah, aku berbaring lemas dan pandanganku tertuju pada tumpukan sampah. Sekarang nasibku sama dengan sampah tersebut. Aku memang pantas dibuang karena udah usang...'

'...Pikiran putus asaku seketika hilang, melihat di antara tumpukan sampah itu ada sebuah buku usang tapi tetap tidak hancur karena terbungkus plastik...'

Belum sempat aku membaca sampai selesai. Tiba-tiba Geny kembali masuk kamarku.
"Buku catatan hasil pemeriksaan pasienku sudah penuh, boleh aku beli punya kamu. Aku malas ke luar Rumah Sakit buat beli."

Aku bingung, apa aku serahkan buku ini dengan Geny atau tetap memilikinya!

(Bersambung)

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

0 Response to "Kisah Korban Pelakor (Eps 8)"

Post a Comment

Hak Cipta Dilindungi

Cerbung.id. Powered by Blogger.