Keadilan yang diKepung Ancaman (Eps 4)

Sesampainya di rumah Nio, "Kamu mau bersama cowo yang tertarik dengan tubuhmu atau bersama cewe yang membencimu?" Tanya Nina kepadaku di dalam mobil yang sama.
Aku tidak keluar. Ninapun melajukan mobil ke rumahnya.

Saat menjelang pagi, sekelompok preman memasuki rumah Nina. Akupun di seret ke kamar Nina. Di sana terlihat Nina yang penuh luka disekujur tubuhnya sedang terikat di kursi.
"Masih bersedia disiksa daripada memberitahukan keberadaan rekanmu yang psikopat itu!" Ucap Dio sambil membuka baju Nina, wajah Nina yang berkaca-kaca berusaha mencegahnya, "Kau tetap akan membunuhku!"
Tanpa pikir panjang Dio menancapkan pisau ke dada Nina. Darahpun mengalir, jeritan gadis tak berdaya terdengar menyakitkan dihatiku. Dio segera pergi bersama teman-temannya. Aku berusaha menghampiri Nina yang wajahnya basah dengan air mata, tangan yang terikat berusaha menutupi lukanya. Tapi, Dio menyeretku keluar lalu mengunci kamar itu.

"Psikopat cantik itu cari mati dengan penguasa sepertiku, beralih dari menjadikan penjahat kelas teri sebagai target lalu menjadikan penjahat kelas kakap sebagai target terbaru!" Kata Dio kepadaku. Sebelum mereka pergi meninggalkanku, "Bawakan kepadaku pasangan psikopat itu!" Perintah Dio kembali sambil melempar Ponsel kepadaku.

Aku berusaha mendobrak pintu, tapi sia-sia dengan tubuh perempuan lemahku ini. Tidak beberapa lama kemudian Nio datang, melihatku dia segera mendobrak pintu kamar hingga ambruk. Melihat Nina tewas, dia kemudian menatap penuh amarah kepadaku, "Kakakmu yang melakukannya!"
Nio lemas seketika.
"Jadi kamu lebih membela kakakmu si koruptor itu yang pasti bukan hanya membunuh Nina tapi juga rakyat miskin diluar sana dengan prekonomian!" Sambungku.
"Bagaimanapun juga dia kakak kandungku, aku tidak mungkin membunuhnya." Nio pergi.
"Kau melepaskanku?" Tanyaku.
"Cepat atau lambat ini akan terjadi. Aku tidak tahu Nina tetap mengincar koruptor. Temuilah kak Padmu, biarlah dia yang membalaskan dendamku!" Jawabnya.

Aku juga segera pergi meninggalkan rumah Nina, dan mengawasinya dari jauh saat polisi memenuhi tempat itu.

Aku melihat kak Pad. Aku segera menghampirinya, "Masuklah ke dalam mobilku!" Perintah kak Pad setelah melihatku.
Kak Pad membawaku ke kantor polisi.

Kak Pad memberikan berkas kepada seorang polisi, "Ini bukti korupsi yang ku temukan di rumah Nina, mahasiswi aktivis itu!"
"Siapa gadis disampingmu!" Tanya polisi sambil menatapku. Rambut yang dulu ikal dan sekarang lurus sepertinya membuatku tidak dikenali.
"Siswi SMK yang lagi magang!" jawab kak Pad.

Tiba-tiba Polisi itu membakar berkas yang diberikan kak Pad, tentu kak Pad terkejut, "Itu bisa menjerat kembali koruptor yang lolos karena prapradilan!" Teriak kak Pad.
"Dia telah banyak memberikan kita uang jauh lebih besar dari pemerintah!" Ucap polisi.
Kak Pad terdiam.
"Seharusnya kamu menangkap teroris bukan koruptor, mantan penyidik atau lebih tepatnya komandan Pasukan Khusus!" Sambung polisi.

Meski kesal kak Pad kembali ke dalam mobilnya. Melajukan dengan kencang menuju markas pasukan khusus. Aku di bawa di hadapan pasukan berpakaian ninja hitam bersenjatakan lengkap.
"Saatnya kita menangkap psikopat yang mengancam nyawa rakyat ini. Dia juga teroris!" Ucap kak Pad dengan lantang dan disambut kata serentak oleh pasukan, "Keamanan Segalanya!"
Kak Pad menatapku, "Tunjukan kepada mereka tempat persembunyian psikopat itu!"

(Bersambung)

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

0 Response to "Keadilan yang diKepung Ancaman (Eps 4)"

Post a Comment

Hak Cipta Dilindungi

Cerbung.id. Powered by Blogger.