Ditinggal Sendiri Di Tengah Jalan (Eps 5)

Aku terkejut saat mendapati rumah dalam keadaan berantakan . Aku masuk perlahan dan memperhatikan lantai rumah yang kotor. Sepanjang perjalanan aku berteriak, "IBU...KAKAK..." tapi tidak ada jawaban. Aku menyadari banyak barang-barang yang hilang. Aku bergegas untuk segera naik ke lantai dua menuju kamar.

Benar yang kuduga. Lemariku berantakan. Bahkan, boneka, pakaian, dan barang-barangku menghilang.
Aku menyelusuri segala sudut rumah, tidak aku temukan Ibu dan Kakak. Mereka tidak mungkin pindah dengan membiarkan pintu rumah tidak terkunci. Aku harus menerima kenyataan pahit rumah ini telah dijarah dan keluargaku menghilang entah ke mana. Aku duduk termenung dan menangis menghadap senja di halaman belakang rumah sambil memandangi lautan luas.

Perut laparku berbunyi. Tiba-tiba aku mendengar suara berisik di samping rumah. Aku mendatanginya dengan hati-hati. Aku terperangah saat melihat seekor burung Merpati sedang makan buah Apel yang terjatuh di tanah. Aku baru sadar dulu ibu pernah cerita. Ayah memiliki peliharaan burung Merpati. Apa burung itu yang dimaksud Ibu?

Aku mencoba menyentuh Merpati itu. Ia tidak menjauh dan sangat jinak. Aku yakin ini milik ayahku. Aku juga melihat beberapa burung Gagak bertengger di pagar rumah. Itu pasti anggota kelompok dari burung Gagak peliharaan ayah yang sudah mati. Saat melihat burung-burung itu, aku juga melihat pohon Apel. Aku baru ingat, ibu pernah menanamnya, untuk memanggil peliharaan ayah yang tidak mau pergi dari rumah tempat tinggal ayah dulu. Tapi tidak berhasil. Entah kenapa mereka sekarang ke sini. Seakan-akan mereka tidak punya tuan lagi.

Aku mencoba meraih buah Apel. Tiba-tiba suara Bel berbunyi. Ternyata listrik di rumah ini masih bekerja. Aku langsung menuju depan rumah. Terlihat di luar pagar ada seorang pemuda. Saat aku dekati ternyata Ari, temannya Fian.
"Aku mengikuti kalian berdua tadi diam-diam." Ucapnya langsung saat melihatku.
Aku memegang kunci pagar, sebelum membukanya aku bertanya, "Ada perlu apa?"
Dia yang di luar pagar menjawab, "Aku ingin kenalan dengan kamu."
Aku terdiam di dalam pagar. Masih tidak percaya dengan dia.

Hal yang memalukan terjadi. Perutku berbunyi. Aku menundukan wajahku. Ari langsung memanfaatkan kesempatan ini, "Mau aku traktir makan di luar?"
Karena aku membutuhkannya, aku menerima tawarannya, "Aku sih mau. Tapi apa kamu mau makan denganku dengan tampilan tidak menarik seperti ini."
Dia menjawab dengan tersenyum, "Tidak masalah."

Aku lalu pergi dengan Ari menggunakan motor ke sebuah restoran. Di sana kami duduk saling berhadapan. Dia yang menawariku untuk memilih makanan yang kusuka, "Apapun yang kamu inginkan silahkan pesan."

Saat makananku datang. Aku heran makanannya tidak ada.
"Kamu gak pesan makanan?"
Dia menjawab sedikit gugup, "A aku udah kenyang. Silahkan kamu saja yang makan."

Saat aku makan, Ari ngajak aku bicara, "Nama kamu siapa?"
Aku menghabiskan makanan di mulut dulu baru menjawab, aku tersenyum belum memperkenalkan diri ke dia, "Aku lupa kita belum kenalan, namaku Enli. Oh iya, maaf kalau lagi makan aku gak bisa diganggu."
Dia langsung membalas, "Aku yang minta maaf. Silahkan lanjutkan makanmu."

Aku melanjutkan makan dan menghabiskan satu porsi makanan. Aku seperti sangat lama tidak menikmati makanan enak seperti ini. Dengan sedikit malu, aku bertanya, "Boleh aku nambah!"
Dia menjawab dengan cepat, "Tentu!"

Aku nambah makanan lagi dan tidak terasa telah menghabiskan tiga porsi makanan. Aku tersenyum bahagia. Tapi wajah Ari terlihat keheranan. Aku sambil tersenyum malu, "Porsi makanku banyak. Maaf ya, merepotkanmu."
Sambil menyapu keringat di jidatnya, dia menjawab, "Oh tidak apa-apa. Kalau gitu aku bayar ke kasir dulu ya."

Saat Ari ke kasir. Yang tadi pandanganku di depan selalu tertuju ke dia kini beralih ke tiga pengunjung yang duduk di meja berbeda di depanku.

Ari cukup lama di kasir jadi perhatianku fokus pada dua pria dan satu wanita di depan. Yang membuatku terusik dua pria itu duduk bermesraan. Bahkan aku bisa mendengar pembicaraan mereka yang bikin aku emosi.

"Indri, kamu butuh uangkan? Jadi tidak perlu pikir-pikir lagi. Kami berdua cuma menyewa rahimmu untuk menghasilkan anak." Ucap salah satu pria sambil merangkul pria lainnya di depan seorang wanita.
Aku yang tahu maksudnya apa. Langsung menghampiri mereka.
Aku meluapkan amarahku di sana, "Apa-apaan kalian. Menyewa rahimnya. Sama saja merendahkan martabatnya."
Salah satu pria berdiri di depanku, "Kami LGBT punya hak. Kamu tidak bisa menjadi tuhan untuk orang lain."
Badannya yang kekar, tidak membuatku takut bahkan tetap melawan, "Kelainan pada kalian itu bukan hak. Tapi penyakit. Sama seperti penyakit jiwa, kalian bisa disembuhkan. Perlu kalian tahu, Tuhan juga melarang hal seperti ini."

Mataku terpejam saat pria itu mencoba menamparku. Seakan tidak jera dengan yang pernah aku alami. Aku kembali membuat masalah.

Aku membuka mata perlahan saat tidak merasakan tamparannya. Terlihat wanita yang tadi diam menahan tangan si pria.
Aku segera bergegas pergi, tapi sebelum pergi aku berucap, "Namamu, Indri kan? Kalau kamu mau uang. Bisa kerja denganku." Entah apa yang ku ucapkan. Tapi aku tidak ingin Indri mau menuruti permintaan dari para pria aneh itu.
Pria satunya terlihat marah, "Jangan campuri urusan orang."
Pengunjung lain menatap kami. Takut mengganggu kenyamanan mereka. Aku segera pergi.

Aku lalu menyusul Ari di kasir. Saat aku mendekati dari belakang, dia terlihat melepaskan jam tangannya dan memberikannya ke kasir perempuan.
"Ari, kamu tidak apa-apa?" Tanyaku cemas.
Dia terlihat panik, "Tidak apa-apa. Aku lagi mau sedekah. Kasian kasir ini kerja dari pagi hingga malam. Waktunya menikmati hidup direbut oleh pekerjaan."
Penjelasan dia terlihat meyakinkan, ketika kasir cuma diam.
Meskipun aku masih tidak percaya, tapi aku tetap yakin dengan dia, "Kalau begitu. Aku tunggu di luar, di pakiran dekat motormu."
Seakan dia ingin aku pergi dengan berkata, "Aku akan menyusul. Kamu tunggu saja di pakiran."

Di pakiran aku tidak menunggu lama. Ari kemudian datang. Tadi dia mengenakan jaket, tapi sekarang tidak. Jadi aku tanya, "Kemana jaket kamu?"
Dia selalu gugup jika aku tanya, "Anu... tadi ada pengunjung yang kedinginan karena AC jadi aku kasih jaket."
Aku tersenyum, "Kamu baik sekali."
Dia juga tersenyum. Tiba-tiba telponnya berbunyi. Dia mengangkatnya, "Maaf bu, aku tidak bisa jemput karena mau mengantar teman pulang."
Aku kesal dia bilang gitu ke ibunya. Langsung aku rebut HPnya. Lalu bicara, "Ari akan segera jemput tante. Aku pastikan itu." Kemudian aku serahkan HPnya kembali.
Dia terlihat cemas, "Bagaimana kamu pulang!, ini sudah malam. Tidak baik buat gadis sepertimu sendirian."
Aku menjawab, "Tidak perlu khawatir. Aku bisa naik Angkot. Yang terpenting, keluarga diutamakan. Jangan aku."
Ari tersenyum. Kemudian pergi dengan motor menjemput ibunya.

Aku turut senang tapi kemudian kaget.
"Sial, aku lupa tidak punya uang buat naik Angkot."

Akhirnya aku jalan kaki pulang ke rumah. Karena jaraknya sangat jauh. Jadi aku berhenti di tengah jalan untuk istirahat. Di sini tidak ada pemukiman tapi jalanan cukup ramai oleh kendaraan. Kemudian aku dihampiri oleh seorang pemuda berpakaian biasa.
"Sendirian saja."
Aku menjawab singkat, "Iya."
Dia tanya lagi, "Mau ke mana?"
Aku jawab kembali singkat, "Pulang."
Dia tersenyum, "Mau aku antar?"
Aku lihat-lihat di sekitarnya, tidak ada kendaraan. Jadi aku tanya, "Pakai apa?"
Dia menjawab dengan senyuman, "Jalan kaki."
Aku kesal, "Tidak. Terima kasih."
Dia tetap ngeyel, "Serius nolak aku."
Aku jawab dengan nada tinggi, "IYA."
Dia lalu pergi.

Saat pemuda itu pergi jauh. Kemudian aku dihampiri sebuah mobil mewah. Seorang pemuda berpakaian rapi keluar dari mobil dan mendekatiku.
"Kok sendirian aja?" Tanyanya.
Aku menjawabnya dengan senyuman, "Iya nih. Gak ada teman."
Dia membalas, "Mau ke mana? Biar aku antar."
Aku senang mendapatkan bantuan.
"Benarkah. Bisa antar aku pulang."

Tiba-tiba pemuda yang berpakaian biasa datang kembali dan disapa oleh pemuda yang berpakaian rapi.
"Bos Bayu, ke mana saja. Aku mencarimu."
Ternyata pemuda biasa ini Bos dan bernama Bayu.
Dia kemudian menjawab, "Biasa cari angin. Kamu ngapain?"
Segera aku potong pembicaraan mereka, "Kalian saling kenal?"
Bayu menjawab, "Iya, dia Yuda, supirku. Emang kenapa?"
Sombong banget dia. Keluhku dalam hati.
Yuda, supirnya yang kemudian menjawab, "Gadis ini mau diantar pulang."
Aku langsung bicara, "Maafkan aku tadi ya Bayu. Soalnya tadi aku lagi kesal mungkin bawaan PMS."
Bayu membalasnya, "Iya aku maafkan." Lalu dia masuk mobil. Diikuti supirnya.
Aku segera menghampiri mobilnya, "Jadikan, antar aku pulang?"
Bayu menjawab, "Mobil ini tidak untuk dinaiki cewek matre kayak kamu."
Ucapannya membuatku malu.
Yuda juga meledekku, "Cewek matre, ke laut saja."
Kemudian mereka pergi.
Aku benar-benar kesal, ternyata mereka bekerja sama ngerjain aku, "Ih, jahat."

Tidak beberap lama. Tepat di depan seberang jalan. Ada pemuda yang berlari ketakutan sambil memegang kamera. Jadi mereka merekamku. Tapi kenapa dia takut. Tiba-tiba ada suara tawa mengerikan, "Hi hi hi." Suara perempuan di belakangku. Aku merinding.

(Bersambung)

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

0 Response to "Ditinggal Sendiri Di Tengah Jalan (Eps 5)"

Post a Comment

Hak Cipta Dilindungi

Cerbung.id. Powered by Blogger.