Disukai Tapi Tidak Dihargai (Eps 8)

Aku di bawa Sanja ke pinggiran Kota dengan mobilnya.
Sesampainya di sana. Aku dibuat heran, "Lebih tepat disebut gedung dibandingkan rumah. Ini yang ingin kamu tunjukan kepadaku?"
"Ini bukan rumah kita, tapi gedung perusahaan!" Jawab Sanja.
"Kamu cuma bilang punya beberapa Resort . Bukan perusahaan!" Ucapku.
"Aku hanya belum bilang ke kamu. Dibandingkan mengatakannya aku lebih memilih menunjukannya langsung." Jelasnya.
Aku benar-benar kagum dengan caranya menyampaikan. Aku tersenyum melihat gedung berbentuk kubus dan sepertinya berlantaikan tiga.
"Aku membutuhkan Perusahaan ini untuk melindungi beberapa Resort ku di bawah naungan hukum." Ucap Sanja lagi.

Dan aku membutuhkanmu Sanja untuk melindungiku di bawah naungan ikatan pernikahan. Ucapku dalam hati.
"Kamu mengatakan sesuatu Lina?" Tanya Sanja.
Aku kaget. Apa tadi aku tidak sadar bicara.
"Aku rasa tidak!" Jawabku agak ragu.
"Ayo masuk!" Ucap Sanja.

Kami disambut petugas keamanan dan karyawati di sana.
"Selamat siang bos!" Sapa petugas keamanan.
"Seperti biasa bos?" Tanya karyawati mempastikan sesuatu.
"Siang. Tolong disiapkan." Jawab Sanja singkat.
Aku tidak mengerti apa yang mereka rencanakan. Tapi nanti aku juga akan tahu.

"Sanja! Aku mau ke toilet dulu." Ucapku saat memasuki gedung.
Sanja meminta karyawatinya yang lain untuk mengantarku.

Di depan ruangan toilet, karyawati itu bilang, "Saya nunggu di sini saja ya!"
Aku lalu masuk ke dalam ruangan toilet. Terdapat Wastafel dan cermin di sisi kanan lalu di sisi kiri ada beberapa kamar kecil. Aku cek satu persatu kamar kecil tersebut untuk mencari yang tidak terkunci. Setelah menemukannya aku memakainya. Setelah selesai dan ketika ingin keluar dari kamar kecil, aku mendengar suara dua wanita yang sedang berbincang.

"Bagaimana penampilanku? Cantik gak!"
"Kan kamu bisa tanya langsung ke cermin"
"Emang aku penyihir. Aku mau tau pendapat orang bukan pendapatku sendiri."
...
"Iya, kamu lebih cantik dariku. Ngomong-ngomong kamu tahu gak?, bos kita akhirnya datang!"

Aku memilih diam di dalam lebih lama lagi di kamar kecil untuk menguping pembicaraan mereka. Aku ingin tahu tentang Sanja dari orang lain.

"Oh. Aku kira perusahaan ini gak punya bos. Dia sih jarang ke sini."
"Kamu benar. Dia itu aneh. Kalaupun dia ke sini, itu cuma ngadain rapat. Parahnya lagi yang dibahas bukan perusahaannya."
"Itu belum seberapa. Kamu tahu, gedung ini dulu angker. Tapi semenjak dibeli murah oleh bos. Gangguan makhluk halus langsung lenyap tak berbekas. Aku curiga bos kita punya ilmu hitam."
"Kalau bos punya ilmu hitam. Pasti ada yang jadi tumbal di sini. Tapi nyatanya tidak. Mungkin bos punya ilmu putih."
"Emang ada? Aku tahunya cuma ilmu hitam."
"Kan di dunia ini diciptakan berpasangan. Pasti ada. Menurut yang kudengar ilmu putih itu mengorbankan sesuatu dari dalam diri penggunanya sendiri. Bukan orang lain."
...
"Kamu mau pergi ke ruang rapatkan. Kamu bantu aku ya, foto bos diam-diam?"
"Buat apa?"
"Aku mau melakukan sesuatu biar bos jatuh hati ke aku. Kalau bos tergila-gila denganku. Aku akan mudah memiliki perusahaan ini dan aku pastikan kamu naik jabatan."

Aku emosi mendengarnya.

Segeraku keluar dari kamar kecil. Tapi mereka berdua sudah tidak ada di depan cermin. Aku lalu keluar dari ruangan toilet.
"Ada apa nona?" Tanya karyawati yang menungguku tadi.
"Kamu lihat ada orang keluar dari sini." Tanyaku.
"Gak lihat, Nona!"
Aku kaget, apa tadi suara hantu? pikirku cemas.

"Saya baru datang. Nona lama. Jadi saya tinggal sebentar. Mungkin saya gak sempat ketemu sama orang yang nona maksud." Jelasnya bikin aku lega.
"Ayo Nona. Bos mau anda menghadiri rapat." Ucapnya lagi.
Ini kesempatanku untuk mencari tahu siapa yang ingin berniat jahat dengan Sanja. Aku segera menuju ruang rapat di lantai dua.

Di sana Sanja sedang menunggu kedatanganku dan yang membuatku kembali terkejut. Semua yang menghadiri rapat adalah karyawati yang berjumlah 10 orang. Tidak ada karyawan. Aku bakalan kesulitan menemukan yang ingin ku cari.
"Lina. Ayo berdiri di sampingku." Perintah Sanja yang kemudian aku turuti.

Sanja bersiap bicara di depan anak buahnya. Terlihat mereka seperti memasang wajah manis yang dibuat-buat. Aku jadi kasian dengan Sanja yang dibohongi.
"Kalian sudah terlihat senang. Jadi kayaknya saya tidak perlu menaikan gaji kalian lagi." Ucap Sanja.
Suasana yang kaku. Seketika cair.
"Yah bos. Jangan begitu dong. Kami berwajah manis gini maksudnya biar bos naikin gaji kami." Ucap salah satu karyawati.
Sanja tersenyum, "Kemarin gaji kalian tidak naik meski pendapatan perusahaan meningkat itu karena saya lagi bangun rumah. Berhubung sudah selesai. Jadi gaji kalian akan saya naikan. "
Para karyawati terlihat sangat senang.

Sanja seperti bisa membaca situasi. Aku ingat kemampuan mistisnya yang lain, bisa mengetahui perasaan seseorang. Bagaimana ya perasaan Sanja melihat para karyawatinya sedang menipu dirinya dengan berpura-pura senang padahal mereka tidak menyukai Sanja. Sedih atau biasa saja. Seandainya aku tahu. Aku mungkin bisa menghiburnya. Tapi yang ku lihat cuma wajah tanpa emosi dan tulus darinya.

Di tengah keceriaan karyawatinya Sanja kembali bicara.
"Gaji yang saya naikan cuma bagi pekerja yang rajin, sopan, dan benar-benar bekerja. Meski saya jarang di kantor. Saya tetap mengawasi kalian lewat CCTV."
Seketika wajah karyawatinya berubah suram. Mereka semua terdiam.

Aku tersenyum. Melihat Sanja mengubah-ubah ekspresi bawahannya.

Sanja kembali bicara.
"Perusahaan ini akan memiliki dua pemilik. Saya akan pilih seseorang yang berada di sini!"
Wajah para karyawatinya mulai tersenyum lagi.
"Sayangnya yang saya pilih bukan di depan. Tapi yang sedang di samping saya." Ucap Sanja bikin ku menatapnya dengan penuh tanya.

Terlihat para karyawatinya berubah cemberut.
"Dia siapanya bos? Keluarga anda!"
"Namanya Lina dan sebentar lagi akan jadi keluarga saya." Jawab Sanja.
"Dia belum menjadi keluarga bos. Bisa saja dia cuma ingin perusahaan bos!" Ucap karyawatinya yang lain, bikin hatiku sakit.
"Lina tidak memintaku untuk menjadikannya pemilik perusahaan ini." Ucap Sanja tanpa emosi. Aku tahu dia sedang membelaku, tapi aku takut dia malah berdebat dengan bahanannya.

"Saya tidak melarang kalian protes jika yakin itu benar." Ucap Sanja membuat para karyawatinya yang tadi melawannya seketika terdiam. Padahal Sanja tidak membentak mereka. Seakan Sanja baru saja mengeluarkan karismanya.

"Maaf, aku menolak tawaranmu!" Ucapku karena hatiku sudah telanjur sakit. Aku memilih keluar dari ruangan itu.

Di lantai satu. Aku menoleh ke belakang. Tapi tidak ada Sanja yang mencoba mencegahku pergi kaya di film-film romantis. Malah petugas keamanan yang mencegat langkahku.
"Maaf Nona. Bos minta saya untuk menghentikan anda."
Kata-kata petugas itu membuatku teringat, tujuanku ingin menghentikan seseorang berniat jahat dengan Sanja. Aku harus kembali ke ruang rapat. Untuk memergoki dia yang mencoba mengambil gambar Sanja diam-diam untuk digunakan menguna-guna Sanja.

Saat aku berbalik arah aku menabrak tubuh seseorang.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Sanja yang muncul tiba-tiba.
"Tidak sakit kok." Balasku.
"Untung kamu punya sesuatu yang empuk jadi bisa kurangi rasa sakit akibat benturan." Ucap Sanja.
"Maksudmu apa?" Tanyaku tidak suka dengan ucapannya.
"A a..." Sanja kesulitan menjawab, sebaiknya aku belajar untuk mengalah.
"Rapatnya sudah selesai?" Tanyaku.
"Iya." Jawab Sanja singkat.
Aku terlambat menghentikan orang jahat itu. Aku bingung harus apa.
"Kamu ingin balik, pasti punya alasan, apa mau bilang, terima tawaranku tadi?" Ucap Sanja mencoba membuatku setuju.
Aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak bisa menuduh tanpa bukti, kalau ada yang mau jahatin dia.
"Iya aku terima, tapi aku tidak paham mengurus perusahaan?" Ucapku.
"Baguslah. Sebagian penghasilan perusahaan ini akan jadi milikmu juga. Kalau aku lupa kasih nafkah ke kamu. Kamu bisa ambil sendiri. Mengenai pekerjaan kamu tidak perlu memikirkannya. Yang berkerja, tetap aku." Jawab Sanja dengan mudahnya meluluhkan hatiku.

Aku lalu diantar Sanja pulang atau bisa dibilang aku sendiri yang mengantar diriku pulang. Sanja mempersilahkan aku menyetir mobilnya.
Di tengah perjalanan. Aku berhenti di sebuah minimarket.
"Aku mau belanja kebutuhan wanitaku. Kamu mau ikut?"
"Aku menunggu di sini saja." Jawabnya.
Aku keluar dari mobil.
"Tidak lama!" Ucapku.
Saat aku ingin pergi dia menahan tanganku.
"Mungkin kamu butuh ini!" Ucap Sanja sambil memberikan kartu kreditnya. Cepat sekali Sanja keluar dari mobil. Bahkan aku tidak sadar dia sudah ada di belakangku.
"Aku tidak akan memakai uangmu, termasuk perusahaanmu. Sebelum aku resmi jadi istrimu." Balasku.

Aku masuk minimarket. Beberapa saat. Kemudian keluar setelah selesai belanja. Terlihat dari jauh Sanja sedang dipojokkan oleh dua pria. Aku menghampiri mereka.
"Sanja, ada apa?" Tanyaku penasaran.
"Dia siapa, Sanja? Cantik juga. Kenalin ke kami." Bukannya Sanja yang menjawab. Malah pria itu.
"Aku tunangan Sanja!" Balasku.
"Tidak salah, kamu milih Sanja. Dia itu orangnya membosankan dan juga pengangguran." Ucap pria itu. Tapi Sanja hanya diam.
"Ayo kita pergi Sanja." Ucapku kesal.
"Sudah ku duga, mobil ini milik si manis. Bukan Sanja. Jadi kamu betah jadi miskin? Dan sepertinya kamu punya bakat baru, memanfaatkan orang lain." Ucap pria yang lain. Lagi-lagi tidak ditanggapi Sanja.
Aku lalu masuk mobil dan diikuti Sanja.
Aku segera melajukan mobil untuk menjauh dari sana.

"Mereka sebenarnya siapa sih Sanja?" Tanyaku emosi.
"Teman SMA ku!" Jawab Sanja.
"Kenapa tidak katakan kamu itu siapa?" Ucapku kesal.
"Biarlah mereka mengira aku tetap yang dulu." Balasnya.
"Jadi, kamu benar-benar menghilangkan emosimu. Buat apa? Agar orang puas menghinamu." Ucapku sambil melihat wajah Sanja yang dingin.
"Jika aku katakan bahwa aku lebih dari mereka. Itu membuat mereka kesal terhadapku. Jika mereka tetap mengganggapku di bawah mereka, itu membuat mereka tetap senang. Aku tidak ingin membuat masalah dengan orang. Karena itu akan membahayakan yang ku sayang." Jelas Sanja tapi tetap bikin aku emosi tidak terima seseorang yang ku sayang dihina.

Sanja tiba-tiba menyentuh tanganku. Seketika hatiku yang panas menjadi dingin.
Saat aku menghadapan kembali ke depan. Aku terkejut.

(Bersambung)

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

0 Response to "Disukai Tapi Tidak Dihargai (Eps 8)"

Post a Comment

Hak Cipta Dilindungi

Cerbung.id. Powered by Blogger.