Cinta Tanpa Bulan Madu (Eps 11)

Malam semakin dingin. Hujan turun deras tanpa tanda-tanda ingin berhenti. Hatiku terasa sedih tak berarti. Ini yang kupilih. Ini juga yang membuatku sakit.

Aku tenggelam dalam genangan air mata dan hujan. Aku terjatuh dan tidak sanggup bangkit. Hujan mengitariku tanpa membasahiku. Melengkapi semua keanehan dalam hidupku.

Baru kusadari seseorang berdiri di hadapanku. Seseorang yang selalu hadir dalam hidupku. Aku belajar bangkit dengan tenagaku sendiri. Di depanku dia berdiri sambil memayungiku dan membiarkan dirinya kehujanan.

"Payung ini, cuma cukup melindungi satu orang!" Katanya.
Aku memeluknya, agar kami terlindungi bersama.

"Jangan pernah tinggal aku lagi Sanja!" Ucapku penuh harap.
Tapi Sanja tidak menjawabku.
"Ku mohon berjanjilah padaku." Ucapku lagi.
"Tidak perlu janji, asalkan kita saling percaya, semua yang tidak mungkin akan mungkin." Balas Sanja.

Di dalam gedung perusahaan.

"Di sana ada ruangan desain baju karyawan dan karyawati. Kita bisa ganti pakaian biar gak terkena pilek." Ucap Sanja.

Setibanya di sana. Kami memilih pakaian masing-masing. Aku melepaskan pakaianku dan menggantinya dengan yang kering. Saatku selesai dan menoleh ke arahnya. Dia sudah tidak ada.

Aku berlari keluar ruangan. Takut kehilangannya lagi.

Di luar dia menungguku.
"Kenapa? kamu masih canggung. Tidak apa, akukan istrimu." Ucapku ke Sanja.
"Aku sudah ganti pakaian." Balas Sanja.
"Aku akan antar kamu pulang!" Ucap Sanja lagi.
"Ke rumah kita?" Tanyaku.
"Ke rumah orang tuamu." Jawab Sanja bikin aku kaget.
"Kenapa?" Tanyaku cemas.
"Pakaian kamu masih di sanakan? Kamu bisa berkemas dulu. Besok pagi akan ku jemput." Balas Sanja.
Aku menahan tangan Sanja, "Tunggu dulu. Kita ke kantin dulu. Aku ingin memberikanmu sesuatu..." Ucapku sambil tersenyum.
Tangan Sanja terasa semakin dingin. Hampir menyerupai suhu mayat. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padanya.
"...Aku buatkan teh hangat untukmu." Lanjutku.
Seketika tangan Sanja berubah hangat.

***

Di kantin kantor.
Sambil membuatkan teh. Aku juga sambil berpikir.
Masa aku tidak boleh memancing nafsu suamiku sendiri. Dari sekian keanehan Sanja, ini yang paling membuatku tidak suka.

Aku membuat dua minuman teh hangat dan memberikannya satu ke Sanja yang duduk. Aku juga ikut duduk di meja yang sama, saling berhadapan.
Aku ingin menanyakan, apakah dia kabur dari penjara? Tapi aku tidak tega menuduh suamiku sendiri.
"Hp mu berbunyi!" Ucap Sanja.
Aku bahkan tidak sadar.
"Kenapa tidak diangkat?" Tanya Sanja.
"Dari ayah, dia cerewet." Balasku.
"Wajar jika seorang ayah mencemaskan anak gadisnya." Ucap Sanja sambil mengambil Hpku yang ku biarkan saja tergeletak di meja. Dia lalu mengangkat telponnya.
"Ini Sanja, ayah..."
"...Lina bersama saya..."
"...Saya dibebaskan setelah Sani mengakui yang sebenarnya..."

Kemudian Sanja memberikan HP itu kembali ke aku. Telpon ayah sudah terputus.
"Apa kata ayah?" Tanyaku.
"Katanya, kalau kamu bersamaku tidak masalah."
Aku tersenyum lagi.

"Kamu membayangkan apa?" Tanya Sanja.
"Tidak ada" Jawabku.
"Sani punya adik yang ikut neneknya..." Sanja menceritakan sesuatu.
"Terus?" Tanyaku penasaran. Dia ingin memberitahu yang ingin aku tahu.

"Bersambung..." Ucap Sanja sambil meminum tehnya.
"Sanja..." Tanyaku kesal.

Sanja kali ini yang tersenyum. Dia meletakan cangkir tehnya kemudian kembali bercerita,
"...Adik Sani saat itu sedang disandera pamannya. Jadi dia terpaksa berbohong demi keselamatan adiknya..."

"Gimana rasa tehnya?" Tanyaku di sela-sela dia bercerita.
"Spesial karena bikinan Istriku." Balas Sanja membuatku senang.

Sanja melanjutkan ceritanya.
"...Semua itu aku ketahui setelah mengutus Merpati mengawasi Sani..."
Dia mengkhawatirkan orang yang jahatin dia. Membuatku jadi mengkhawatirkannya.
"...Setelah tahu Sani punya adik dan disandera oleh pamannya. Merpati mengikuti paman Sani hingga menemukan tempat adik Sani disekap..."
Aku memotong Sanja bicara, "Jika kamu katakan, merpati yang memberitahumu, ke polisi, mereka tidak akan percaya!"
"Aku mengatakannya ke Yena. Dia yang menggantikan posisi merpati untuk menjelaskannya ke polisi!" Balas Sanja.
"Jadi Yena tahu keanehanmu juga?" Tanyaku.
"Entahlah. Dia mengerjakan apa yang aku katakan tanpa bertanya, tidak peduli aku seaneh apa!" Balas Sanja.
Jadi itu alasannya kenapa Sanja sangat akrab dengan Yena. Kok aku merasa seperti tersaingi yah. Bagaimanapun juga aku harus berubah agar lebih dari Yena.

***

Esok paginya. Aku bersiap pagi-pagi sekali mengemasi barang-barangku ke dalam koper. Saat mobil Sanja tiba. Aku bergegas pamit dengan kedua orang tuaku. Ayah berwajah datar sedangkan ibu menangis sambil memelukku.
"Semoga kamu bahagia nak. Dengan keluarga barumu." Doa ibu padaku.
Dari kecil hingga besar aku hidup di sini. Kenangannya membuatku tidak kuasa menahan air mata ini.

Aku mencium tangan ayahku.
"Maaf ayah, Saya gak kuliah seperti ayah inginkan. Saya juga tidak berkerja seperti ayah harapkan. Tapi saya janji akan selalu ingat ayah dan ibu. Saya akan membalas jasa kalian. Saya akan mengunjungi kalian. Sa..."
Ayah memelukku. Mengelus kepalaku dengan lembut.
"Ayah senang kamu masih menghargai orang tuamu!" Ucap ayah.
Aku merasa bersalah. Hampir saja aku kualat sama orang tuaku. Untung Sanja mengingatkanku malam tadi.

Setelah ayah melepaskan pelukannya, aku bersiap keluar. Sanja sudah berada di depan pintu. Dia masuk dan melewatiku. Mencium kedua tangan ayah dan ibuku.
"Ayah, ibu, saya berjanji tidak akan menyakiti Lina dan akan menjaganya." Ucap Sanja.
Di balas senyuman dari kedua orang tuaku.

Sanja menghampiriku dan mengambil koper yang ku pegang.
Kami berjalan bersama menuju mobil.

Di dalam perjalanan. Sanja memberikan tisu padaku yang terus menangis.
"Orang tuamu pasti sangat bangga punya anak seperti kamu yang masih ingat mereka meskipun udah punya keluarga baru." Ucap Sanja.
"Tadi kamu bicara apa Sanja?" Tanyaku sambil menghentikan tangisanku.
"Bersambung..." Jawab Sanja.
"Kejauhan Sanja, itu kata malam tadi." Ucapku kesal.
"Kata yang aku maksud, punya anak." Ucapku lagi sambil tersenyum.

"Awas!!!" Teriakku, melihat seorang ibu muncul tiba-tiba.
Sanja menghentikan mobilnya mendadak.
"Kamu kenapa sih, ada orang di depan. Bukannya kurangi kecepatan tapi tetap melaju." Marahku.
"Dia muncul begitu saja."Jawab Sanja.
Aku kaget. Di depanku ibu-ibu itu tidak ada. Aku memegangi tangan Sanja, karena takut.

"Ah!" Aku kembali dikagetkan dengan ibu-ibu tadi yang menggendor-gendor pintu mobil di sampingku.
Aku beranikan membuka pintu dan keluar dari mobil, "Ada apa bu?"
"Tolong anak saya?" Ucap ibu itu sambil menunjuk ke arah hutan sebelah kanan kami.
"Sanja, kita ke..." Ajakku ke Sanja. Dia malah udah makirin mobilnya di sisi kiri jalan dan udah mau masuk hutan yang ada di kanan.
"Kamu mau ikut atau jaga mobil?" Tanya Sanja.
Aku segera menghampiri Sanja. Kami masuk ke hutan.

"Di mana bu?" Tanyaku pada ibu-ibu yang ada di sampingku.
Dia cuma menunjuk ke suatu arah. Aku heran ketika melihat arah itu adalah jurang. Saat aku menoleh kembali, si ibu sudah tidak ada.

Aku segera menghampiri Sanja yang mau menuruni jurang.
"Sanja, ayo kita pulang." Ucapku ketakutan.

Aku benar-benar kaget. Melihat ke dasar jurang yang tidak terlalu dalam tapi curam. Seorang wanita tergeletak dan memeluk sesuatu.

Aku melihat Sanja menuruni jurang dengan singgah ke beberapa pohon agar tidak terpeleset ke dasar. Aku mengikuti jejak Sanja.

Sampai ke dasar. Aku merinding. Melihat wanita yang tergeletak itu sama persis dengan ibu-ibu tadi. Terlihat darah di kepalanya akibat benturan dengan batu.
"Kamu ngapain Sanja?" Tanyaku melihat Sanja membersihkan sesuatu.

Aku gemetar melihat ada bayi dengan berbalutkan kain di pelukan ibu itu. Si bayi juga dikerubutin semut.
Aku segera menggendong bayi tersebut.
Suara bayi masih terdengar meski pelan. Sepertinya si bayi terus menangis hingga suaranya hampir habis. Ini pertama kalinya aku menggendong seorang bayi.

"Apa yang terjadi Sanja?" Tanyaku kepada suamiku yang merupakan mantan penyidik polisi.
"Ada keranjang di sana tergeletak. Isinya buah-buahan. Sepertinya si ibu cari makanan di hutan ini dan mengalami kecelakaan." Jawab Sanja, sambil menunjuk ke arah keranjang yang cukup jauh dan tidak ku sadari.

Sanja membantuku menaiki jurang.
"Ayo kita bawa bayi ini ke pukesmas terdekat." Ucap Sanja sambil menuju ke arah mobil.
"Kamu tidak tolong ibu bayi ini?"
"Denyut nadinya sudah tidak ada, kita akan minta bantuan ke warga sekitar." Balas Sanja.

Kami berada di dalam mobil. Bayi ini masih sadar.

Desa yang kami tuju jaraknya cukup jauh. Setelah hutan. Kami melewati bekas tambang yang gersang dan sampai sebuah kampung.

Aku keluar sama Sanja dan langsung menghampiri warga.
"Keluarga baru ya? Selamat ya udah punya anak. Ada rumah kontrakan di tengah di desa!" Ucap warga itu.
Aku cuma bisa tersenyum. Berharap bisa mengadobsi bayi ini.
Sanja kemudian memperlihatkan layar di HPnya ke warga.
"Bapak, tahu ibu ini?"
Warga itu kaget.
"Kenapa kepala ibu ini mengeluarkan darah. Kamu yang nabrak?" Tanya warga.
"Dia jatuh dari jurang!" Ucapku langsung.
"Ibu ini, tinggal di pojok desa. Rumahnya jauh dari warga yang lain. Suaminya pengangguran." Jelas Warga.
Harapanku pupus, ternyata bayi ini masih punya orang tua.

***

Setelah semua warga tahu dan juga suami si ibu dikabari, meski belum datang. Di pukesmas. Mayat si ibu ditutupi kain putih. Dan si bayi di obati luka gigitan semutnya.

Tidak beberapa lama datang pria yang melepas amplop coklat bergaris di tangannya dan langsung membuka kain penutup si ibu.
"Biadap kalian semua. Jika kalian tidak membiarkan istri saya kelaparan. Ini tidak mungkin terjadi!" Teriak pria itu.
Aku gemetar lihat bapak itu marah.
"Kamu yang gak bisa nafkahi istrimu, jangan salahkan kami." Teriak warga balik.
"Iya, hutang kalian sudah terlalu banyak. Kamu pikir beras gak dibeli pakai uang." Teriak warga lainnya.
"Setidaknya kalian kasih perhatian sedikit ke istri saya. Selama saya cari kerja." Ucap bapak itu sambil memeluk mayat istrinya.

Semua warga cuma bisa diam. Seakan tidak menemukan solusi.
Sanja mendekati bapak itu.
"Saya turut prihatin. Bapak bisa bekerja di tempat saya. Cuma diami rumah penginapan saya yang kosong. Bapak juga bisa mengurus anak bapak sekaligus di sana." Ucap Sanja. Tapi si bapak tidak menanggapinya.

Aku menggambil amplop yang dijatuhkan bapak itu. Benar isinya berkas persyaratan melamar kerja. Aku menuliskan nomor kontak Sanja. Kemudian meletakannya di dekat bapak itu.

***

Kami melanjutkan perjalanan. Saat keluar desa mau menuju mobil, kami bertemu dengan Yena yang baru datang.
"Lurus saja. Ada pukesmas di sana. Kamu coba rawat bayi itu sampai benar-benar sehat. Biaya pengobatan dan hidup mereka, kita tanggung sampai si bapak punya pekerjaan. Kasih tahu juga kita punya panti anak yang bisa digunakan jika perlu." Jelas Sanja ke Yena.

"Aku bisa bicara empat mata sama Lina!" Ucap Yena. Bikin aku heran.
"Bicara apa?" Tanya Sanja penasaran.
"Masalah wanita!" Balas Yena kemudian menarik tanganku. Lalu mengajakku menjauh dari Sanja.

Sanja terlihat terus jalan menuju ke mobil, dia masuk. Tapi mobilnya tidak dia nyalakan.
"Bicara apa? Aku gak punya waktu." Tanyaku.
"Ini tentang Sanja, karena kamu udah jadi istrinya, jadi kamu perlu tahu ini." Balasnya.
"Aku punya banyak waktu. Silahkan katakan." Jawabku.

(Bersambung)

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

0 Response to "Cinta Tanpa Bulan Madu (Eps 11)"

Post a Comment

Hak Cipta Dilindungi

Cerbung.id. Powered by Blogger.