Bertahan Hidup Dari Siksaan (Eps 8)

Menyadari kesadaranku yang mulai berkurang. Aku memukul keras dadaku dengan kedua tanganku hingga memuntahkan air, sambil tetap mengusahakan kepala berada di atas air, meski tubuh ini hanyut dibawa arus sungai.

Aku mencoba berenang dan meraih tasku. Setelah bersusah payah akhirnya aku mendapatkannya. Lalu mencoba menyayunkan kedua tangan secara bergantian untuk menuju ke tepi dengan mengikuti arah arus. Aku memegang akar yang melebar ke tepi sungai. Karena terlalu licin, tidak berhasil.

Ranting pohon yang menjalar sampai ke sungai aku coba raih dan berhasil. Tanganku berusaha memegang erat melawan arus yang mencoba menghanyutkanku kembali.

Setelah berkerja keras aku berhasil ke tepi. Walaupun hujan sudah berhenti. Keadaanku tetap basah kuyup dan beberapa tubuhku juga mengalami memar mungkin terbentur bebatuan sungai.

Aku berjalan sempoyongan sambil bertumpuan dengan pepohonan yang ada. Tubuhku lemas. Aku berusaha mencari sesuatu untuk dimakan. Ketika menemukan pohon pisang, aku segera mengambil buahnya yang tumbuh rendah. Memakan beberapa dengan rakus karena lapar. Lalu menyimpan sisanya ke dalam tas. Kemudian melanjutkan jalan menuju rumah.

Dibesarkan sendiri di hutan membuatku mengenal hutan lebih dari orang-orang. Cahaya rembulan dan bintang juga menuntunku menuju jalan ke rumah. Hingga akhirnya, aku sampai disaat malam hari.

Saat di depan rumah aku dikejutkan oleh sosok putih yang berdiri di depan pintu. Saat semakin dekat, aku menyadari itu Agi. Aku menghampirinya senang. Walaupun badanku menggigil aku menyambutnya dengan senyuman.
Dan Dia langsung membalasnya dengan pertanyaan, "Dari mana saja kamu sejak siang tadi?"
Aku memperlihatkan buah pisang di dalam tas, "Aku sedang mencari ini."
Dia melihatku yang sedang berpakaian basah lalu bicara, "Kamu harus pikirkan kesehatanmu." Kemudian pergi meninggalkanku.

Aku segera masuk ke rumah dan menyalakan penerangan lilin lalu berganti pakaian kering. Mencoba tidur tapi badan yang menggigil membuatku susah tidur. Tiba-tiba ketukan pintu berbunyi.
"Tok tok tok!"
Selama ini aku tidak pernah mempunyai tamu. Ketika aku membuka pintu, ternyata benar tidak ada siapa-siapa. Meskipun aku berpikiran salah dengar, aku tetap merinding.

Terlihat di bawah ada selimut berbungkus plastik. Aku merasa tidak pernah punya selimut. Tapi, karena membutuhkannya jadi aku mengambilnya. Menutup pintu dengan rapat dan mencoba tidur kembali menggunakan selimut. Kehangatan yang ku rasa membuatku nyaman hingga tidak sadar tertidur.

~

Keesokan harinya. Hari sabtu tiba. Sekolahku libur. Jadi aku menggunakan waktu itu untuk mencuci di sungai ketika matahari mau terbit.

Saat lagi mencuci sendirian. Terdengar suara laki-laki.
"Kamu mencucinya dengan bersih walaupun tidak menggunakan sabun diterjen. Tidak heran pakaian yang kamu kenakan selalu terlihat bagus."
Aku melihat ke atas bukit. Dari pakaiannya yang serba putih, aku rasa itu Agi. Aku lalu menghentikan mencuci dan mendatanginya.

Aku duduk di sampingnya, "Agi, kenapa kamu selalu mendekatiku?" Tanyaku dengan gugup.
Agi dengan wajah datarnya menjawab, "Kita punya kesamaan!"
Dia tidak melanjutkan bicara jadi aku kembali bertanya, "Kesamaan seperti apa?"

Agi mengadahkan telapak tangannya lalu menunjuk ke depan, "Namamu Ambun dan namaku Agi, kita sama-sama muncul di saat matahari terbit..."
Aku yang tahu maksudnya tertawa, "Hahaha, maksudmu, Embun Pagi?"
Dia menatapku aneh sambil tersenyum, membuatku terdiam.
Lalu dia bicara, "Selama aku memperhatikanmu, jauh sebelum Dinda mengatakan cinta padaku. Aku tidak pernah melihatmu tertawa bahagia seperti tadi. Cuma senyuman di wajahmu yang selalu ku lihat."

Aku kaget, "Kamu selalu memperhatikanku setiap saat?" Tanyaku untuk meyakinkan.
Agi menggerakan semua jari seperti merasakan tangannya yang terlihat basah lalu menggenggamnya , "Seperti embun Pagi tidak bisa kita temui selalu. Begitu juga aku, yang hanya manusia biasa bukan Tuhan. Sekuat apapun aku berusaha, ada saat ketika kamu lepas dari jangkauan pandanganku. Karena kita punya jalan hidup masing-masing..."

Jika dibandingkan sebelum-sebelumnya, ini kata-kata Agi yang cukup panjang. Aku mendengarkan tanpa berani menatapnya. Tapi tiba-tiba dia terdiam.

Karena cukup lama, aku menoleh ke arahnya. Dan dia kembali menghilang. Di saat bersamaan cahaya matahari terbit menyilaukan mataku.

(Bersambung)

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

0 Response to "Bertahan Hidup Dari Siksaan (Eps 8)"

Post a Comment

Hak Cipta Dilindungi

Cerbung.id. Powered by Blogger.