Berlutut Untuk Memohon (Eps 11)

Aku mengetuk pintu rumah Agi.
Tok tok tok.
Berulang kali aku melakukannya tidak ada jawaban. Aku khawatir. Lalu menyelusuri ke sekeliling rumah. Mencoba menengok semua jendela yang kulalui. Tapi aku tidak bisa melihat apa-apa. Di dalamnya sangat gelap.

Aku mencari pintu belakang rumah Agi. Saat sampai di belakang. Aku terkejut melihat kuburan di sana. Badanku gemetar. Dengan rasa yang sangat cemas aku melihat nama di papan nisan. Ada dua kuburan, laki-laki dan perempuan tapi tidak ada yang bernama Agi. Aku lega kemudian sedih.
"Pasti, ini kuburan orang tua Agi."

Aku duduk di antara kuburan itu. Meminta restu kepada mereka.
"Om, tante, aku akan menikah dengan anak kalian. Semoga kalian merestuinya."
Seketika aku merinding ketika terdengar suara, "Iya."

Aku menoleh kesekeliling. Ternyata ada burung Beo di dalam sangkar yang terbuka. Pasti itu peliharaannya Agi. Ia begitu setia dengan Agi. Meskipun sangkarnya terbuka. Ia tidak terbang keluar. Aku tidak boleh kalah setia dari burung itu.

Aku juga melihat pintu belakang. Segera aku menghampirinya dan mengetuk pintu. Tapi tetap tidak ada jawabannya.

Aku lalu kembali ke depan. Mungkin Agi tidak ada di rumah. Jadi aku menunggu hingga dia datang di depan rumahnya.

Hujan lebat turun. Aku tetap bertahan. Berdiri sambil melipat kedua tanganku menyilang di dada. Air hujan membasahi tubuhku. Meski menggigil aku tetap tidak menyerah.

Hingga tiba-tiba seorang pria datang menggunakan payung.
"Bapak, tetangganya Agi."
Sambil tersenyum aku menanyakan tentang Agi, "Dia akan segera datangkan Om."
Bapak itu tidak membalas senyumku, "Dia tidak pernah datang lagi. Tapi dia menitipkan ini sama Om. Jika ada seorang gadis yang mendatanginya, katanya berikan ini padanya."
Aku tahu yang diserahkan bapak itu surat tanah rumah Agi. Aku menolaknya, "Aku tidak mau om. Yang kuingin hanya Agi."
Bapak itu memaksaku untuk mengambil surat itu, "Selama ini tidak ada yang datang ke rumah ini. Cuma kamu. Jadi kamu berhak mendapatkan ini."
Aku berteriak, "Hentikan Om." Ucapku sambil meneteskan air mata.
Aku terlalu percaya diri, "Apa Agi pergi dari kota ini. Kemana dia Om. Aku ingin menyusulnya. Aku akan yakinkan dia, aku adalah tulang rusuknya." Ucapku lagi.

Bapak itu mencoba pergi. Aku segera berlutut dan memegangi kakinya, "Aku mohon Om. Aku mencintai dan menyayanginya sepenuh hati. Tidak ada yang lain selain dirinya. Katakan dia pergi ke kota, negara, di belahan Bumi mana Om. Aku akan mengumpulkan uang untuk menyusulnya."
Bapak itu akhirnya menyerah, "Berdirilah dan Om akan katakan!"

Aku berdiri dan menghapus air mataku. Bapak itu kemudian bicara.
"Agi sudah mendonorkan satu ginjalnya. Dia takut ginjal yang tersisa akan rusak jika lama di tubuhnya. Jadi dia mendonorkan ginjalnya itu juga. Semua dia berikan untuk anak miskin yang masih punya orang tua. Kata Agi, mereka lebih berhak hidup dibandingkan dia. Jenazahnya juga dia sumbangkan untuk penelitian di rumah sakit."

Mendengar itu seketika dadaku sangat sakit. Begitu sakit untuk dirasakan. Aku mencekram kuat dadaku. Air mataku terus menetes. Kepalaku pusing dan tubuhku lemas hingga membuatku terjatuh. Pandanganku mulai kabur. Yang terakhir ku lihat hanya darah yang mengalir dari kepalaku di bawah tanah bebatuan ini.

(Tamat)

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

0 Response to "Berlutut Untuk Memohon (Eps 11)"

Post a Comment

Hak Cipta Dilindungi

Cerbung.id. Powered by Blogger.